Home / Berita / Metode Pelaksanaan Pekerjaan

Metode Pelaksanaan Pekerjaan

 

Ruang Lingkup Pekerjaan yang akan dilakukan pada PEMBANGUNAN KANTOR GEUCHIK GAMPONG ULEE GLEE KECAMATAN MAKMUR KABUPATEN BIREUEN ini dibagi dalam beberapa scope pekerjaan besar yang merupakan uraian dari keseluruhan pekerjaan pada proyek ini.

Untuk Pekerjaan gedung, uraian dalam metode pelaksanaan ini adalah uraian keseluruhan pekerjaan pada proyek ini, baik untuk pekerjaan Pembangunan Ruang UGD, Pembangunan Rumah Paramedis Type.70 maupun Pembangunan Perkantoran, yang membedakannya hanya volume pekerjaan dan durasi waktu pelaksanaannya saja.

SCOPE PEKERJAAN

pada proyek ini dapat diuraikan sebagai berikut :

  1. PEKERJAAN PENDAHULUAN/ PERSIAPAN
  2. PEKERJAAN TANAH
  3. PEKERJAAN PASANGAN / BETON
  4. PEKERJAAN DINDING & PLESTERAN
  5. PEKERJAAN ATAP
  6. PEKERJAAN LANTAI
  7. PEKERJAAN PLAFOND
  8. PEKERJAAN PENGECATAN
  9. PEKERJAAN FINSHING & LAIN-LAIN
  1. PEKERJAAN PENDAHULUAN/ PERSIAPAN

Pekerjaan Pendahuluan/ Persiapan merupakan awal pekerjaan yang mutlak dilakukan sebelum dilaksanakannya pekerjaan konstruksi yang urutannya sesuai dengan skala prioritas. Pekerjaan ini meliputi sebagai berikut :

Yang termasuk ke dalam Pekerjaan Persiapan adalah :

  • Survey lokasi, Mobilisasi Alat dan Tenaga Kerja.

Setiap akan memulai suatu segmen pekerjaan, terlebih dahulu Kontraktor akan melakukan pekerjaan pengukuran dan pematokan pada masing-masing titik lokasi pekerjaan. Dengan kata lain, tidak ada pekerjaan yang dapat dimulai terlebih dahulu sebelum pekerjaan pengukuran dilakukan.

Survey awal lapangan dilakukan untuk menyesuaikan rancangan (gambar kerja) dengan keadaan aktual di lapangan. Dalam proses ini seorang surveyor akan melakukan Setting-Out lokasi pekerjaan dengan berpedoman pada patok referensi yang telah ditetapkan oleh Direksi / Pemberi Pekerjaan, Hasil data ukur dilaporkan ke direksi.

Pekerjaan survey mencakup :

  1. Survey Pendauhuluan

Survey yang dilakukan untuk menentukan Titik-titik Lokasi Pekerjaan, dengan berpedoman pada patok referensi yang sebelumnya telah ditetapkan oleh Direksi / Pemberi Pekerjaan.

Pekerjaan survey ini dilakukan oleh surveyor dari Kontraktor yang didampingi oleh wakil dari Direksi. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya kesalahan interpretasi pengukuran mengenai lokasi-lokasi pekerjaan, jika sudah dimulai pekerjaan secara keseluruhan.

  1. Survey Detail

Survey ini dilakukan pada saat setiap segmen pekerjaan akan dimulai pengerjaannya. Surveyor melakukan pengukuran dan pembantu surveyor akan menandainya dengan memberi patok/tanda.

Tanda ini dibuat dengan cukup kokoh dan mudah dikenali, agar pada saat memulai pekerjaan sudah ada pedoman untuk membuat bouwplank dan sebagainya.

Untuk Mobilisasi, secara garis besar sebenarnya Mobilisasi disini dapat dibagi dalam 4 (empat) kelompok, yaitu : Mobilisasi personil tenaga inti pelaksana, Mobilisasi material, Mobilisasi tenaga kerja dan Mobiliasi peralatan.

Secara umum diuraikan, mobiliasasi personil tenaga inti pelaksana akan dilakukukan oleh kontraktor sebelum pekerjaan dimulai sampai masa persiapan selesai, hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pelaksana dalam menyusun planning kerja setelah terlebih dahulu mengenal lapangan dan melakukan identifikasi terhadap kemungkinan permasalahan yang timbul nantinya selama waktu definitive pelaksanaan pekerjaan dimulai.

Mobilisasi Personil Inti Pelaksanaan Pekerjaan adalah pada tahap proses pekerjaan persiapan sedang dilaksanakan, tujuannya adalah agar dapat dibuat rencana aktual pelaksanakan pekerjaan secara detail, orientasi lokasi dan identifikasi lapangan, juga koordinasi dengan direksi atau yang mewakili, sebelum pelaksanaan pekerjaan. Tujuannya adalah agar waktu pelaksanaan pekerjaan dapat lebih efektif, karena dengan mengetahui kondisi lapangan lebih dini akan dapat ditentukan metode praktis yang paling efektif untuk menyelesaikan pekerjaan secara keseluruhan.

Sedangkan untuk mobilisasi material dan tenaga kerja serta peralatan, Kontraktor akan membuat uraian secara rinci mengenai jumlah kebutuhan dan jadwal mobilisasinya ke lapangan, dan akan dilaporkan/ diajukan kepada Direksi Pekerjaan dalam masa Persiapan Pelaksanaan Proyek.

  • Pekerjaan Pagar Sementara

Untuk keamanan lokasi pekerjaan, dan juga dengan pertimbangan tidak mengganggu kenyaman masyarakat di sekitar lokasi pekerjaan, maka di sekeliling lokasi proyek diberi pagar sementara yang terbuat dari seng dengan kerangka penyokong dari kayu. Tinggi rata-rata pagar sementara ini adalah 2,0 M.

  • Dalam setiap jarak 2 M, pagar ini diberi tiang pengaku dari balok dengan ukuran yang sesuai dengan spesifikasi, dan untuk setiap tiang ini diberi balok pengaku horizontal sebanyak minimum 2 buah pada bawah dan elevasi 2 M
  • Seng sebagai penutup dipaku kan terhadap balok-balok penyokong tadi.
  • Untuk kemudahan akses dan distribusi material, akan diberi minimum 2 (dua) pintu gerbang pada lokasi. Titik lokasi penempatan pintu gerbang ini akan ditentukan setelah tinjauan seksama di lapangan. Syarat minimum dari pintu gerbang ini adalah : dapat dilewati oleh mobil/ kendaraan terbesar yang dibutuhkan selama proyek berjalan, penempatan nya dapat mendistribusikan material secara merata di lokasi proyek, minimalisasi gangguan terhadap masyarakat sekitar akibat mobilisasi dan aktifitas kerja selama proyek dilaksanakan.
  • Pengukuran (Uitzet) dan Pemasangan Bouwplank.

Setelah surveyor melakukan pengukuran terhadap batas-batas lokasi proyek dan batas lokasi bangunan, sesuai dengan gambar kerja, maka dilanjutkan dengan pengukuran terhadap as-as bangunan dan titik-titik kolomnya.

Pengukuran yang dilakukan oleh surveyor pada tahap ini adalah sudah merupakan pekerjaan survai detail, yang berpedoman pada hasil setting-out yang telah dilakukan dengan berpedoman pada patok referensi pada Pekerjaan Survey Pendahuluan.

Pada Survey ini diambil elevasi tanah existing yang nantinya akan dipindahkan dalam pekerjaan pemasangan bouwplank.

Penjelasan untuk pekerjaan pengukuran dan pemasangan bouwplank ini, diuraikan sebagai berikut :

  • Surveyor dengan dibantu oleh seorang pembantu surveyor melakukan setting-out dengan berpeoman pada pada referensi yang telah ditetapkan
  • Dengan berpedoman pada hasil pengukuran sebelumnya diambil elevasi tanah asli, kemudian barulah pekerjaan pengukuran elevasi bangunan dilakukan
  • Hasil pengukuran-pengukuran diatas akan dipindahkan oleh tukang dan beberapa pekerja pada kayu bouwplank, yang akan dijadikan sebagai referensi/pedoman dalam melakukan setiap pekerjaan proyek pada bidang tersebut. Dalam proses pemeindahan hasil pengukuran ini surveyor terus terlibat aktif membantu tukang, sehingga tidak terjadi kesalahan interpretasi hasil pengukuran yang dapat menyebabkan kesalahan posisi dan titik-titik bangunan secara keseluruhan
  • Karena akan digunakan dalam waktu yang lama, Bouwplank ini harus dibuat dengan konstruksi yang cukup kuat, tidak mudah goyang atau berubah posisinya, baik secara vertikal maupun horinzontal
  • Patok-patok bouwplank ditanam cukup dalam agar kokoh, kemudian jarak antar patok pun harus dibuat dengan jarak proporsional (2,0 – 3,0 M), tergantung dari besarnya tiang patok yang ditanam
  • Setelah bouwplank terpasang secara keseluruhan mengelingi rencana lokasi bangunan, barulah kemudian ditarik as-as bangunan sesuai dengan gambar kerja
  • Setelah penarikan as-as bangunan dilakukan, kemudian dilanjutkan dengan pekerjaan galian tanah

Sebagai tambahan keterangan untuk pengukuran gedung bertingkat (misalnya dari lantai Dasar ke lantai I) ; Setelah pekerjaan struktur pada lantai dasar selesai dikerjakan, kemudian dilanjutkan dengan pekerjaan bekisting lantai dan balok untuk Lantai I. Yang perlu diperhatikan disini pada saat akan melanjutkan pekerjaan dari lantai dasar ke lantai I, surveyor akan membuat patok pedoman untuk dijadikan referensi untuk pekerjaan pengukuran di lantai I. Patok pedoman pada lantai dasar ini dibuat dengan jumlah 2 buah (atau proporsional, sesuai kebutuhan dan tipe pembagian ruang bagian dalam bangunan), sehingga pada lantai I nanti didapatkan titik acuan yang representatif untuk pekerjaan pengukuran dan penarikan as-as bangunan. Uraian mekanisme kerjanya adalah sebagai berikut ; setelah ditempatkan patok pedoman pada lantai dasar, kemudian surveyor melakukan penembakan terhadap patok tersebut dari latai I, penembakan ini harus memperhitungkan sudut kemiringan, jarak horizontal dan vertikal. Setelah didapatkan patok pedoman pada lantai I, barulah kemudian surveyor melakukan pengukuran dan menarik as-as bangunan pada lantai I tersebut.

Pekerjaan pemindahan patok pedoman pengukuran dari lantai bawah ke lantai atasnya ini, biasanya dikerjakan pada ruang tangga atau atau sengaja dibuatkan lubang bantu sesuai dengan dengan kondisi yang ada.

  • Pembuatan Site Office (Direksi Keet)

Kontraktor membuat direksi keet dan kantor lapangan, yang akan digunakan sebagai pusat aktifitas tenaga inti pelaksana pekerjaan lapangan. Direksi Keet juga ditujukan kegunaannya sebagai kantor representasi lapangan wakil Pemberi Pekerjaan di lapangan.

Direksi keet juga difungsikan sebagai tempat rapat lapangan antara Kontraktor dengan wakil pemberi pekerjaan. dan pemberian instruksi langsung wakil Pemberi Pekerjaan di lapangan.

Pekerjaan ini dilaksanakan sesuai dengan yang tercantum dalam Spesifikasi Teknis. Ukuran dan material disesuaikan dalam Spesifikasi Teknis.

  • Pembuatan Barak Kerja dan Gudang

Survey terhadap lahan yang tersedia untuk lokasi (Peruntukkan Lahan) terhadap jalur-jalur logistik dan penempatan site bangunan proyek, yang meliputi antara lain : jalur logistik, timbunan material terbuka dan tertutup, sistem drainase lingkungan proyek, pengadaan air kerja, penerangan, serta pembuatan papan nama proyek.

Dalam hal penyediaan tempat untuk tenaga. Utamanya Kontraktor akan mengupayakan untuk memberikan kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar lokasi proyek. Apabila terdapat kekurangan dari supply lokal tersebut atau dengan pertimbangan kontraktor untuk keefisienan dan efektifitas pekerjaan, Kontraktor juga akan mendatangkan tenaga kerja dari luar lokasi pekerjaan. Sebagai konsekwensi dari pendatangan tenaga kerja dari luar tersebut, Kontraktor berkewajiban untuk menyediakan tempat tinggal berupa bedeng yang layak untuk ditempati bagi tenaga kerja tersebut.

Kontraktor juga akan menyediakan tempat yang cukup dan layak untuk penimbunan material-material untuk pekerjaan struktur, seperti :

  • Tempat (gudang) untuk penimbunan material semen yang cukup luas, sehingga semen dalam jumlah banyak dapat ditumpuk tidak terlalu tinggi, yang dapat menurunkan kualitas dan kinerja semen itu sendiri, baik dalam hal pengikatan terhadap material beton lainnya, maupun terhadap kemudahan pengerjaan dalam proses pembuatan campuran beton. Kantong semen yang baru datang ditumpuk pada bagian yang bawah, sedangkan kantong semen yang sudah lama ditumpuk dinaikkan keatas, untuk dipergunakan terlebih dahulu untuk pekerjaan yang akan segera dilakukan.
  • Gudang juga digunakan dipakai sebagai tempat penimbunan keseluruhan material bangunan yang belum waktunya dipakai di lapangan, juga sebagai tempat penyimpanan peralatan-peralatan kerja yang belum dan atau telah dipergunakan di lapangan.
  • Gudang juga digunakan sebagai tempat meletakan perlengkapan keselamatan kerja selama proyek sedang berjalan.
  • lokasi untuk penempatan material besi struktur, hendaknya ditempatkan di tempat tertutup, dan pada bagian bawahnya diberi alas balok kayu untuk menghindari terkotori oleh tanah sebelum proses pekerjaan pembesian pada pekerjaan struktur mulai dilakukan. Jika terpaksa ditempatkan pada tempat terbuka, hendaknya ditutup dengan terpal plastik (tidak lupa diberi alas balok kayu pada bagian dasar tumpukan) untuk menghindari terkena hujan dan panas secara langsung. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya korosi pada besi
  • Untuk penyimpanan material batu bata di lapangan, jika ternyata harus penyimpanannya harus ditempatkan di tempat terbuka, diusahakan agar dasar tumpukan ditinggikan, dan tumpukan material batu bata tersebut ditutup dengan plastik, agar tidak langsung terkena panas atau hujan, sehingga tidak mengurangi kualitasnya.

dan lain sebagainya yang dianggap perlu.

  • Dropping Material (Procurement)

Dalam pekerjaan persiapan ini, Kontraktor akan segera melakukan dropping material dengan skala prioritas sesuai dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan terlebih dahulu, dan telah di-approve by Direksi pekerjaan dan Konsultan pengawas.

Untuk selanjutnya dalam masa pelaksanaan pekerjaan, Sebelum melakukan dropping material, kontraktor akan mengajukan Detail Material Schedule dan Mock Up material kepada Direksi. Setelah disetujui, barulah material didatangkan ke lokasi proyek.

  1. PEKERJAAN TANAH

Setelah dilakukan pengukuran dan pemasangan bouwplank, pekerjaan galian tanah akan dilaksanakan setelah pengajuan request dan shop drawing. Kedalaman galian disesuaikan dengan shop drawing yang telah diajukan (Aprroval by Direksi / Konsultan Supervisi). Tanah hasil galian dibuang/ditempatkan di sekitar lokasi galian dengan tidak mengganggu terhadap pekerjaan yang lain.

Buangan tanah tersebut perlu diperhitungkan lokasi buangannya, karena nantinya tanah akan digunakan kembali sebagai pekerjaan urugan tanah kembali.

Proses penggalian dengan tenaga manusia atau alat berat (jika diperlukan). Untuk mendapatkan hasil galian yang rapi dan baik perlu dibuatkan profil sebagai perwakilan dan dimensi galian yang dikerjakan, sesuai dengan gambar kerja.

Pekerjaan tanah meliputi : pekerjaan galian tanah, pekerjaan urugan tanah kembali, urugan tanah peninggian peil bangunan, urugan pasir bawah pondasi, urugan pasir bawah lantai, ataupun pekerjaan lantai kerja (rabat beton).

Pekerjaan Tanah ini akan dilakukan bersama-sama secara simultan dengan Pekerjaan Pondasi.

III. PEKERJAAN PASANGAN / BETON

Yang termasuk ke dalam Scope Pekerjaan Pasangan / Beton ini adalah Pekerjaan Pasangan Batu Kali dan Pekerjaan Beton Struktur.

Pondasi yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah Pondasi Batu Kali/Gunung dengan dimensi dan ukuran sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam gambar kerja.

Proses pekerjaan pondasi batu kali ini, pertama-tama dibuatkan profil bantuan (perwakilan) ukuran, dimensi dari Pasangan Pondasi tersebut, agar didapatkan hasil yang rapi dan baik.

Setelah tanah digali sesuai dengan dimensi dan level-nya, permukaan tanah diberi lapisan pasir urug yang dipadatkan, hal ini bertujuan untuk disamping meratakan level permukaan bawah pondasi juga ditujukan untuk perataan beban strutktur jika mendapat beban dari atas.

Diatas pasir urug yang dipadatkan tersebut diberi lapisan Pasangan Batu Kosong (Aanstamping), yang terdiri dari batu kosong dengan diisi pasir urug. Pasir urug digelar terlebih dahulu untuk menstabilkan kondisi tanah akibat galian. Sedangkan pondasi batu kali/gunung dengan menggunakan campuran mortar 1 PC : 4 PS. Dan pada bagian atasnya dipasangan angkur besi dengan interval jarak 1 – 1,5 meter. Angkur ini ditanam dengan tujuan akan digunakan untuk mengikat pondasi dengan sloof beton bertulang.

Pekerjaan pondasi meliputi : Pekerjaan Pasangan Batu Kali (Aanstamping), Pasangan Batu Kali / Gunung.

Untuk Pekerjaan Beton, Beberapa hal yang dapat dijelaskan mengenai syarat dari suatu beton dengan kriteria berspesifikasi tinggi, adalah sebagai berikut tetapi bukan hanya terbatas pada :

  • Semen harus segar tidak ada proses pembatuan.
  • Pasir terdiri dari butiran yang tajam dan keras, tidak mengandung lumpur lebih dari 5 %, pasir laut tidak boleh digunakan.
  • Kerikil harus terdiri dari butiran yang beragam besarnya dan butirannya keras serta tidak berpori.
  • Air untuk pencampuran dan perawatan beton tidak boleh mengandung minyak, asam, alkali, dan bahan – bahan organis lainnya yang dapat merusak beton atau baja tulangan.

Untuk syarat mutu dan spesifikasi teknis lainnya, Kontraktor akan berpedoman pada ketentuan yang ditetapkan, sesuai dengan petunjuk Direksi / Pemberi Pekerjaan.

Secara garis besar, proses pekerjaan beton pada proyek ini dapat diuraikan sebagai berikut :

Yang pertama, terlebih dilakukan pekerjaan pengukuran dan pematokan oleh surveyor, setelah didapat as-as struktur dan batas-batas tepinya, kemudian pekerja melakukan pekerjaan penggalian atau penimbunan secara manual untuk mendapatkan elevasi yang disyaratkan dan telah diukur sebelumnya. Sementara proses pekerjaan ini berjalan pekerjaan fabrikasi besi dan bekisting terus dilakukan, sehingga nantinya setelah proses pekerjaan tanah selesai dilakukan, pekerjaan lainnya dapat dilakukan secara berkesinambungan tanpa terputus.

Setelah pekerjaan penggalian selesai, diteruskan dengan pengecoran lantai kerja. Pembuatan lantai kerja ini dimaksudkan untuk meratakan beban tekanan beton bagian atas terhadap tanah dibawahnya, disamping itu juga dimaksudkan agar tidak terjadi proses pencampuran antara beton struktur dengan tanah atau lumpur selama proses pengecoran dikerjakan, sehingga dapat menurunkan kualitas beton secara keseluruhan.

Sedangkan untuk Pekerjaan Beton Struktur Atas penjelasan urutan kerjanya sama dengan pekerjaan Beton Struktur Bawah, yaitu dimulai dengan pekerjaan fabrikasi dan instalasi masing-masing bekisting dan besi, baru kemudian pekerjaan pengecoran dilakukan.

PEKERJAAN PEMBESIAN telah dilakukan sebelum atau bersamaan dengan pekerjaan galian struktur. Sebelumnya terlebih dahulu Pelaksana membuat Bar Bending Schedule, dan menghitung kebutuhan potong-potongan besi berikut jumlahnya, seteleh itu juga disertai dengan gambar potongan dan pembengkokan. Hal ini untuk memudahkan tukang dan pekerja dalam pengerjaan pemotongan dan pembengkokkan besi. Bar Bending schedule juga sangat efektif untuk mengurangi kesalahan pemotongan besi, dan pemborosan pemakaian besi di lapangan. Pekerjaan pemotongan dan fabrikasi besi ini baru dapat dilakukan, jika Bar Bending schedule dan gambarnya yang diajukan ke Direksi Pekerjaan / Konsultan supervisi, telah disetujui dan diperintahkan untuk dilaksanakan.

BEKISTING / CETAKAN BETON dibuat secara kokoh, kuat dan rapat agar tidak bocor. Kayu yang digunakan sesuai dengan perencanaan dan mempunyai permukaan yang rata, sebelum pengecoran dilakukan terlebih dahulu permukaan cetakan diolesi olie. Selanjutnya saat pengecoran agar selimut beton rencana tidak bergeser, dipakai beton tahu (beton decking) pada besi tulangan. Untuk pekerjaan beton pada proyek ini, pada struktur bekisting terutama stuktur bekisting kolom, harus diberi skor vertikal dan diagonal yang cukup kokoh, agar pada saat dilakukan pekerjaan pengecoran tidak tumbang. Untuk pekerjaan Sloof dan balok Skor vertikal & diagonal ini dibuat dengan jarak 1,5 – 2,0 M disesuaikan dengan keadaan di lapangan dan besarnya balok kayu yang digunakan untuk skor-skor tersebut. Selain hal tersebut, untuk menjaga agar tetap sama jarak antara dinding luar dan dinding dalam setelah proses pengecoran, maka antara papan/tripleks bekisting tersebut diikat dengan kawat beton (bendrat), untuk menjaga kekakuannya ketika dibebani oleh beton yang dituang yang mempunyai berat yang besar.

PROSES PENCAMPURAN BETON dilakukan dengan menggunakan concrete mixer. Selama proses pencampuran ini akan diawasi oleh Quality Controller agar mutu beton yang dihasilkan sesuai dengan yang disyaratkan, Proses pencampuan beton ini berpengaruh sangat besar terhadap mutu beton yang dihasilkan nantinya. Material dimasukkan secara bertahap ke dalam concrete mixer antara 2 sampai 3 tahap, tidak sekaligus. Pertama-tama dimasukkan air terlebih dahulu, kemudian semen, setelah itu baru berturut-turut pasir dan kerikil. Jika pada mixer kapasitasnya masih memungkinkan untuk ditambah, maka setelah beton setengan masak, kemudian dimasukkan lagi, semen, kerikil dan pasir, begitu seterusnya sampai mixer penuh kapasitasnya. Setelah beton masak, baru dituang ke lokasi pekerjaan.

Sebagai kontrol terhadap mutu, maka akan dibuat benda uji berbentuk kubus 15 x 15 cm, sebanyak 3 buah, untuk diuji kuat tekannya pada umur 7, 14 dan 28 hari. Hasil pengujian ini harus memenuhi kuat tekan yang diijinkan. Jika ternyata beton tidak memenuhi kuat tekan yang dijinkan, maka Kontraktor akan memberikan suatu treatment sehingga beton dapat memenuhi syarat sesuai dengan mutu yang disyaratkan. Treatment ini akan disesuaikan dengan permasalahan dan kondisi yang terdapat di lapangan, dapat berupa penambahan dimensi beton dengan metode Jacketting Concrete, atau dengan pemberian bracing pada struktur yang mempunyai momen lapangan/tumpuan.

Untuk produk beton pada pekerjaan struktur plat lantai, jika memungkinkan Kontraktor akan mendatangkan beton jadi produksi Batching Plant yang mana kontrol terhadap mutunya telah terjamin.

Pada saat beton dihamparkan digunakan alat Concrete Vibrator, agar beton yang dituang dapat merata ke setiap bagian konstruksi yang di cor, terutama bagian-bagian konstruksi di tepi, di sudut, dan bagian beton yang intlalasi besi nya rapat.

PERAWATAN BETON dilakukan dengan cara penyiraman permukaan beton dengan air selama 14 hari setiap 3 jam sekali. Pekerjaan perawatan beton ini juga dapat dilakukan dengan melapisi beton menggunakan Karung goni basah.

Pekerjaan Beton Bertulang meliputi : Pekerjaan Sloof, Kolom Struktur dan Kolom Praktise, Ringbalk, Balok Lantai, Balok dan Plat Sun Wearing, Dak Atap serta Dak Talang.

  1. PEKERJAAN DINDING & PLESTERAN

Pekerjaan untuk dinding dilaksanakan setelah pekerjaan sloof terselesaikan, sloof sebagai tumpuan pasangan bata (dinding) diberikan permukaan yang kasar agar pas. bata terikat rapi dan kokoh. Dengan dibuatkan profil bantuan (waterpass) agar pemasangan dinding rapi dan rata. Pencampuran untuk pekerjaan dinding pasaangan trassram 1 PC : 2 Ps untuk bagian bawah dinding dan kamar mandi (ketinggian sesuai dengan gambar kerja). Sedangkan pas. bata 1 PC : 4 Ps untuk pasangan dinding lainnya, keculai KM/WC.

Permukaan dinding bata, sebelum dilakukan plesteran cukup disiram air agar mempunyai daya ikat yang baik.

Dalam pekerjaan plesteran dengan dengan mengunakan batangan aluminium (Straigh Edge) atau kayu, agar dihasilkan permukaan yang rata dan rapi. Dalam Pekerjaan Plesteran ini, agar hasil finisnya membentuksuatu permukaan yang rapi dan teratur akan dibuatkan kepala acuan yang terdiri dari plesteran dengan ketebalan yang sesuai dengan ketebalan plesteran akhir lebar ± 5 cm. Kepala acuan (Heading) ini dibuat vertikal, diukur dengan seksama sehingga benar tegak lurus terhadap bidang datar dan horizontal. Jarak antar headding ini ± 3 M. Setelah headding-headding ini dibuat, barulah pekerjaan plasteran secara keseluruhan dilakukan.

Selanjutnya dapat dilaksankan pekerjaan acian. Pekerjaan acian baru boleh dilaksanakan setelah permukaan dinding yang diplester sudah cukup kering.

Ada dua opsi disini untuk pekerjaan pasangan dinding/plesteran ini, yang pertama pekerjaan pasangan dinding batu bata dilaksanakan setelah pekerjaan sloof selesai tanpa menunggu selesainya pekerjaan struktur pada lantai tersebut secara keseluruhan, yang kedua pasangan dinding batu bata baru dikerjakan setelah pekerjaan struktur (sloof/balok, kolom, balok & plat lantai, ringbalk) selesai dikerjakan secara keseluruhan pada lantai tersebut, untuk selanjutnya pekerjaan dinding pasangan batu bata tersebut dapat dikerjakan bersamaan waktunya secara simultan dengan pekerjaan struktur beton bertulang pada lantai diatasnya.

Dalam hal ini, Kontraktor lebih cenderung kepada opsi kedua, dimana Pekerjaan struktur pada lantai tersebut diselesaikan terlebih dahulu secara keseluruhan, baru kemudian pekerjaan dinding pasangan batu bata dikerjakan. Sebagai tambahan keterangan untuk opsi kedua ini ; untuk mengikat struktur dengan Dinding Pasangan Batu Bata, maka pada beton struktur diberi angkur besi dengan jarak yang proporsional atau sesuai dengan yang disyaratkan.

V. PEKERJAAN ATAP

Setelah pekerjaan beton (Ringbalk) selesai dan beton cukup umur, kemudian dilakukan proses pemasangan rangka kuda-kuda. Karena rangka kuda-kuda yang digunakan adalah rangka kuda-kuda baja ringan (Zincalum Truss), maka di lokasi pekerjaan hanya merupakan pemotongan dan instalasi, dikerjakan sesuai dengan spesifikasi teknis ditetapkan dan manual yang dikeluarkan oleh pabrik. Kuda-kuda pada proyek ini adalah menggunakan konstruksi baja ringan dengan metode pemasangan sesuai dengan peraturan yang telah disyaratkan sesuai dengan ketentuan / manual yang yang dikeluarkan oleh pabrik pembuatnya, baik mengenai sambungan, maupun perkuatan pertemuan buhul. Karena pekerjaan ini adalah merupakan pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus dari pemasangnya, maka untuk pekerjaan ini akan langsung dilakukan oleh aplikator yang telah mempunyai afiliasi dengan pabrik yang mengeluarkan produk rangka atap baja ringan ini.

Kemudian dilanjutkan dengan pemasangan gording dan rangka atap (usuk reng /kaso) sebagai tempat dudukan genteng serta nok papan ruitter dan talang, ukuran jarak reng dan usuk sesuai dengan shop drawing dan spesifikasi. Selanjutnya pemasangan genteng dan bubungan serta talang buangan air hujan dan listplank.

  1. PEKERJAAN LANTAI

Meliputi Pekerjaan Lantai keramik didalam ruangan dan sebagian lantai rabat beton diluar ruangan.

Pada tahap pekerjaan lantai keramik ini, pertama-tama dilakukan dilakukan pengukuan terhadap peil rencana, kemudian dibuat bouwplank bantu untuk penarikan penatikan benang, untuk acuan pemasangan keramik, agar terjaga kelurusan dan tegak lurus terhap dinding. Setelah pekerjaan penarikan banang ini selesai, baru kemudian dilanjtkan dengan pekerjaan pemasangan lantai keramik dengan acuan benang tersebut. Benang acuan ini harus lurus secara vertikal dan horizontal.

VII. PEKERJAAN LANGIT-LANGIT (PLAFOND)

Pada tahap pekerjaan ini, pertama-tama dilakukan pengukuran terhadap peil rencana perletakan plafond. Proses pemasangan rangka plafond adalah untuk bentang memanjang (hanger) menggunkan rangka besi hollow dengan pola grid berukuran 60 x 60 cm. Rangka plafond dibuat dengan interval sesuai dengan shop drawing yang telah disetujui. Rangka plafond dipasang pada elevasi yang sama. Kemudian dilanjutkan dengan pemasangan Plafond (Gypsump/ Calsium Board) dan dipaku pada setiap pertemuan pada frame (rangkanya).

Untuk menghilangkan kesan sambungan pada plafond, maka pada sambungan antar lembaran plafond diberi semen putih. Setelah semua bagian sambungan tertutupi dengan semen putih, kemudian di amplas untuk mendapatkan kesan permukaan yang rata, setelah itu barulah pekerjaan pengecatan plafond dilakukan.

VIII.PEKERJAAN PENGECATAN

Jumlah lapisan pengecatan dilakukan sesuai dengan persyaratan dan spesifikasi yang ditentukan, setelah Approval Material yang diajukan telah mendapat persetujuan Direksi Pekerjaan. Agar hasil yang dilakukan baik dan rapi, bagian yang akan dilakukan pengecatan perlu dijaga terhadap kelembaban (kadar air). Tentang warna dan produk yang akan digunakan dalam proses pengecatan ini, sesuai dengan Approval yang disetujui dan atau sesuai dalam Spesifikasi Teknis.

IX. PEKERJAAN FINISHING DAN LAIN-LAIN

Merupakan Pekerjaan Pengantung dan Finishing

Pekerjaan Kunci dan penggantung dilakukan tahap terakhir, mengingat pekerjaan ini hanya merupakan pekerjaan pemasangan saja tanpa memerlukan tinggkat kesulitan yang tinggi. Pemasangan material sesuai dengan gambar kerja.

Pada tahap akhir pekerjaan ini, dilakukan pembersihan dalam dan sekitar area bangunan, terhadap sisa-sisa bahan bangunan yang tidak terpakai lagi. Serta dilakukan pemeriksaan kembali terhadap kualitas dan kuantitas pekerjaan secara keseluruhan sesuai dengan yang terdapat dalam Kontrak Perjanjian Pekerjaan. Hasil pekerjaan yang kurang sempurna dan belum diterima baik oleh Direksi Pekerjaan dan Konsultan Pengawas, dapat segera diperbaiki.

Dibuat Oleh;

2mdesain

 

About mulgd

Check Also

RUMAH RUKO MODERN BERLANTAI II REULEUT KOTA JUANG TYPE 249

RUMAH RUKO MODERN BERLANTAI II REULEUT KOTA JUANG TYPE 249 mengusung tema minimalis disetiap desainya ...

2 comments

  1. Mantap…informasinya sangat bermanfaat

    Mari bergabung dengan website http://www.sipilpoin.com yang memBahas Kumpulan Ilmu Proyek Konstruksi Bangunan. Saling share ilmu dan pengalaman dalam dunia konstruksi banguanan.
    Demi kemajuan dunia konstruksi INDONESIA.
    ilmu konstruksi bangunan
    ……….
    Silakan Join dengan cara klik ” SUBSCRIBE” untuk langganan email.
    ………
    atau
    ………
    Klik tombol Follow …
    …………

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *